Minggu, 08 Oktober 2017

Kata budaya dalam artikel "Reog Ponorogo"



Artikel Dalam Bahasa Indonesia :

REOG

Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

SEJARAH REOG PONOROGO

Ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal usul Reog dan Warok [1], namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit yang berasal dari Tiongkok, selain itu juga murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan di mana ia mengajar seni bela diri kepada anak-anak muda, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kembali. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Kertabhumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya [2]. Kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Bhre Kertabhumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi



Tokoh-tokoh dalam seni Reog

1. Jathil

Jathil adalah prajurit berkuda dan merupakan salah satu tokoh dalam seni Reog. Jathilan merupakan tarian yang menggambarkan ketangkasan prajurit berkuda yang sedang berlatih di atas kuda. Tarian ini dibawakan oleh penari di mana antara penari yang satu dengan yang lainnya saling berpasangan. Ketangkasan dan kepiawaian dalam berperang di atas kuda ditunjukkan dengan ekspresi atau greget sang penari.

2. Warok

"Warok" yang berasal dari kata wewarah adalah orang yang mempunyai tekad suci, memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. Warok adalah wong kang sugih wewarah (orang yang kaya akan wewarah). Artinya, seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik.Warok iku wong kang wus purna saka sakabehing laku, lan wus menep ing rasa (Warok adalah orang yang sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada pengendapan batin).

3. Barongan

Barongan (Dadak merak) merupakan peralatan tari yang paling dominan dalam kesenian Reog Ponorogo. Bagian-bagiannya antara lain; Kepala Harimau (caplokan), terbuat dari kerangka kayu, bambu, rotan ditutup dengan kulit Harimau Gembong. Dadak merak, kerangka terbuat dari bambu dan rotan sebagai tempat menata bulu merak untuk menggambarkan seekor merak sedang mengembangkan bulunya dan menggigit untaian manik - manik (tasbih). Krakap terbuat dari kain beludru warna hitam disulam dengan monte, merupakan aksesoris dan tempat menuliskan identitas group reog. [4] Dadak merak ini berukuran panjang sekitar 2,25 meter, lebar sekitar 2,30 meter, dan beratnya hampir 50 kilogram.

4. Klono Sewandono

Klono Sewandono atau Raja Kelono adalah seorang raja sakti mandraguna yang memiliki pusaka andalan berupa Cemeti yang sangat ampuh dengan sebutan Kyai Pecut Samandiman kemana saja pergi sang Raja yang tampan dan masih muda ini selalu membawa pusaka tersebut. Pusaka tersebut digunakan untuk melindungi dirinya. Kegagahan sang Raja di gambarkan dalam gerak tari yang lincah serta berwibawa, dalam suatu kisah Prabu Klono Sewandono berhasil menciptakan kesenian indah hasil dari daya ciptanya untuk menuruti permintaan Putri (kekasihnya). Karena sang Raja dalam keadaan mabuk asmara maka gerakan tarinyapun kadang menggambarkan seorang yang sedang kasmaran.

5. Bujang Ganong

Bujang Ganong (Ganongan) atau Patih Pujangga Anom adalah salah satu tokoh yang enerjik, kocak sekaligus mempunyai keahlian dalam seni bela diri sehingga disetiap penampilannya senantiasa di tunggu - tunggu oleh penonton khususnya anak-anak. Bujang Ganong menggambarkan sosok seorang Patih Muda yang cekatan, berkemauan keras, cerdik, jenaka dan sakti.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Reog_(Ponorogo)


TERJEMAHAN DALAM GOOGLE TRANSLATE

REOG

Reog is one of the cultural arts originating from East Java to the north-west and Ponorogo is considered as the real home town of Reog. Ponorogo city gate is decorated by the figure of warok and gemblak, two figures who participated in the show when reog performed. Reog is one of the regional culture in Indonesia is still very thick with things that smell mystical and strong psychotherapy.

HISTORY REOG PONOROGO

There are five versions of the popular story that developed in the community about the origins of Reog and Warok [1], but one of the most famous stories is the story of Ki Ageng Kutu rebellion, a royal servant in the Bhre Kertabhumi period, the last Majapahit King who came to power in the century -15. Ki Ageng Kutu wrath of the strong influence of the wife of the king of Majapahit king who came from China, but also angry to his king in a corrupt government, he also saw that the power of Majapahit Kingdom will end. He then abandoned the king and established a college where he teaches martial arts to young people, the science of immunity, and the science of perfection in the hope that these young children will be the seed of the reign of the Majapahit kingdom again. Realizing that his troops were too small to fight the royal army, Ki Ageng Kutu's political message was conveyed through Reog's art performance, which was an "allusion" to King Kertabhumi and his kingdom. Reog performances became the way Ki Ageng Lice built up the resistance of local people using the popularity of Reog.

In the show Reog is shown a lion-head mask known as the "Barong Lion", the king of the jungle, symbolizing Kertabhumi, and above it plugged in peacock feathers to resemble a giant fan that symbolizes the powerful influence of his Chinese counterparts governing from above all motion- he gasped. Jatilan, played by a group of gemblak dancers riding a horse into a symbol of Majapahit Majapahit troop strength that contrasts in comparison with the power of warok, which is behind the red clown mask that symbolizes for Ki Ageng Lice, alone and sustains the weight of the singabarong mask that reaches more from 50 kg just by using his teeth [2]. The popularity of Reog Ki Ageng Lice eventually led to Bhre Kertabhumi taking action and attacking his college, rebellion by warok quickly overcome



Characters in the art of Reog

1. Jathil

Jathil is a horse-riding warrior and is one of the figures in the art of Reog. Jathilan is a dance depicting the dexterity of horsemen who are practicing on horses. This dance is performed by a dancer in which the dancers with each other pair up. Dexterity and expertise in battle on a horse is shown by the dancer's expression or greget.

2. Warok

"Warok" derived from the word wewarah is a person who has the determination of holy, giving guidance and protection without selfless. Warok is wong kang sugih wewarah (a person who is rich in wewarah). That is, a person becomes warok because it can give instructions or teaching to others about good life. Wokok iku wong kang wus purna saka sakabehing behavior, lan wus menep ing sense (Warok is a perfect person in the behavior of his life, and came to the deposition of the inner ).

3. Barongan

Barongan (Dadak peacock) is the most dominant dance equipment in Reog Ponorogo art. The parts include; Tiger head (caplokan), made of wood framework, bamboo, rattan covered with tiger skin Gembong. Dadak peacock, skeleton made of bamboo and rattan as a place to arrange peacock feathers to describe a peacock developing its feathers and biting beads strings (tasbih). Krakap made of black velvet embroidered with monte, is an accessories and place to write the identity of reog group. [4] This peacock is about 2.25 meters long, about 2.30 meters wide, and weighs nearly 50 kilograms.

4. Klono Sewandono

Klono Sewandono or Raja Kelono is a powerful monk Mandraguna who has a heirloom of Cemeti very powerful with the title Kyai Pukul Samandiman wherever go the king who is handsome and still young is always carrying the heritage. The heirloom is used to protect itself. The King's enchantment is depicted in the dance movement that is lively and authoritative, in a story of King Klono Sewandono managed to create beautiful art results from his creativity to obey the request of Princess (lover). Because the King is in a drunken state of romance the tarinyapun movement sometimes portrays a person who is in love.

5. Bujang Ganong

Bujang Ganong (Ganongan) or Patih Pujangga Anom is one of the energetic, hilarious, and also has expertise in martial arts so that every appearance always waiting in wait by the audience



----------------------------------------------------------------------------------------------------

Analisis

Ada 2 kata budaya yang tidak bisa diterjemahkan oleh google translate


  • Wewarah  : wewarah ada di kamus besar bahasa indonesia yang memiliki arti Ajaran ( yang berdasarkan pada ajaran nenek moyang). Pada kalimat "orang yang kaya akan wewarah" yang di terjemahkan menjadi " a person who is rich in wewarah" . orang kaya akan wewarah memiliki maksud orang yang memiliki banyak ajaran dari nenek moyang.
  • Mandraguna : menurut KBBI, kata mandraguna memiliki arti yaitu seseoarang yang memiliki kesaktian yang luar biasa, serta terkadang kebal. dalam kalimat potongan kalimat "seorang raja sakti mandraguna" dan ditermahkan menjadi " a powerful monk Mandraguna" . jadi frasa "Sakti Mandraguna" memiliki artian orang yang sangat sakti sekali.